SEKILAS INFO
17-10-2021
  • Selamat Datan di Website Sekolah Tinggi Agama Islam DDI SIDRAP
21
Apr 2021

ARTIKEL: PUASA RAMADHAN MENDIDIK MANUSIA MENINGKATKAN KUALITAS AKHLAK
Oleh: Mansur

Puasa Ramamadhan mengandung banyak persepsi, salah satu dari sekian persepsi memandang sebagai ibadah ritual (ibadah) semata kepada Allah, Tuhan pencipta manusia. Persepsi yang demikian ini kurang tepat, mengingat pelaksanaan ibadah puasa memiliki hubungan dengan pihak lain, terutama kehidupan sesame manusia yang biasa disebut dengan akhlak.
Salah satu kandungan ibadah puasa Ramadhan adalah mendidik manusia untuk meningkatkan kualitas akhlak. Menurut Syekh Amad Farid, sebagaimana yang dikutip oleh Dr. Mansur dalam bukunya yang berjudul Pembinaan Akhlak Mulia (Penerapan Sistem Internalisasi Nilai Pendidikan Agama Islam), akhlak adalah “sekumpulan nilai dan sifat yang tertanam dalam jiwa dan berimbas kepada baik buruknya perbuatan di mata manusia”. Lebih lanjut ditegaskan bahwa akhlak suatu nilai yang menyatu dengan jiwa yang tampak dalam sifat-sifat manusia, akhlak yang baik akan tampak indah dimata manusia lain, dan akhlak buruk akan tampak buruk pula dimata manusia lain.
Puasa merupakan suatu perintah yang jelas datangnya dari Allah, yang dikhususkan pada sekelompok umat manusia yang memiliki predikat manusia yang beriman. Firman Allah dalam surat al-Baqarah (QS:2:183).
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ
Terjemahnya:
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,
Ayat tersebut di atas Allah memanggil orang yang beriman dengan kata-kata Aamanu, bila diperhatikan beberapa ayat lain dalam al-Qur’an ada pula kelompok manusia dipanggil dengan panggilan an-Nas, dan al-Insan. Kata an-Nas seperti QS:2:21, dan kata an-Nas ini berulang sebanyak 240 kali, sedangkan kata al-Insan seperti QS: 86:5., kata al-Insan ini berulang disebutkan sebanyak 65 kali.
Prof. Dr. H. Ramayulis dalam bukunya yang berjudul Ilmu Pendidikan Islam menjelaskan bahwa kata an-Nas menunjukkan karakteristik manusia yang berada dalam keadaan labil, walau telah dianugrahi potensi untuk digunakan mengenal Tuhannya, potensi yang diberikan itu digunakan untuk menentang keMahakuasaan Tuhan. Sedangkan kata al-Insan dijelaskan bahwa manusia mengandung dua dimensi yaitu dimensi tubuh dan spiritual. Hal ini menunjukkan keunikan manusia, telah memiliki kelebihan dan keistimewaan juga memiliki keterbatasan, seperti tergesa-gesa, kikir, suka membantah, resa dan gelisah dan sebagainya. Potensi spiritual bila digunakan akan mewujudkan dirinya sebagai makhluk Allah yang mulia, jika tidak manusia akan tergelincir dan terjerumus pada kehinaan, bahkan lebih hina dari binatang.
Kata Aamanuu pada surah al-Baqarah ayat 183 di atas menunjukkan suatu kualitas yang baik yang disandang oleh manusia, demikian pula kata Tattaqun. Manusia yang baik tersebut dengan sebutan Aamanuu dipanggil untuk menaati perintah Allah (berpuasa), agar kualitas Iman tersebut terjaga yang ditandai dengan adanya ketetapan takwa dalam dirinya. Takwa dalam pengertian ini adalah mengikuti perintah Allah dan menjauhi segala larangannya.
Prof. Dr. H. Mahmud Yunus dalam tafsirnya menjelaskan Allah memerlukan puasa yaitu menahan nafsu dari pada makanan, minum dan bersetubuh dengan perempuan (isteri) pada siang hari di bulan Ramadhan. Hikmanya adalah mendidik ruhani dan budi pekerti. Manusia yang suka menahan nafsunya, karena semata-mata mengikuti perintah Allah, niscaya ia akan terdidik mengingat Allah tiap-tiap waktu, serta malu kepadanya berbuat dosa.
Manusia yang berpuasa mendidik manusia tidak suka memakan hak manusia lain seperti dengan jalan menipu, korupsi meskipu amat tersebunyi (tidak ada yang melihat). Sebab dalam berpuasa meskipun memakan yang halal, kepunyaan sendiri, ia dapat menahan nafsunya, apalagi memakan yang haram.
Selain itu manusia berpuasa merasakan kelaparan tentu ia mengingat fakir miskin yang setiap hari merasa kelaparan, dengan jalan itu tertarik hatinya untuk menyumbang.
Jadi puasa tidak hanya menahan hawa nafsu melainkan berbuat baik terhadap manusia lain seperti ada rasa perihatin dan ingin membantu manusia yang lemah, miskin.
Nabi Muhammad Saw., mewanti-wanti (meworning) manusia berpuasa agar menjaga puasanya tidak batal maupun rusak pahalanya. Al-Baihaki meriwayatkan bahwa sanya Nabi bersabda.
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

Artinya:
Betapa banyak manusia berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar saja.
Dalam hadis yang lain lebih tegas dan jelas secara terperinci hal-hal yang dapat membatalkan pahala puasa. Hadis nabi tersebut diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa sanya Nabi bersabda.
خمس خصال يفطرن الصائم وينقضن الوضوء. الكذب والغيبة والنميمة والنظر بشهوة واليمين الكاذبة

Artinya:
Lima macam perkara yang membatalkan puasa seseorang dan wudunya: berdusta, ghibah (menjelk-jelekkan orag tidak dihadapannya tetapi dimuka orang lain), mengadu-ngadu (memfitnah), melihat wanita dengan syahwat, bersumpah palsu.
Apabila diperhatikan hadis Nabi di atas, Nabi mensejajarkan puasa dengan wudhu bisa batal. Artinya apabila melakukan sifat-sifat seperti berdusta, berghiba, mengadu domba, memandang wanita penuh syahwat, dan bersumpah palsu, maka puasanya dan wudhunya jika telah berwudhu itu batal.
Oleh karena itu perintah puasa pada bulan Ramadhan bukan hanya semata-mata diperuntukkan kepada Allah, tetapi lebih penting juga adalah memperhatikan manusia lain, mengasihi manusia lain, membantu manusia lain.
Sifat-sifat mengasi dan membantu manusia lain, dan menjaga perbuatan dan permusuhan antar sesama menggambarkan betapa tingginya kualitas akhlak manusia tersebut. Hal ini dapat ditunjukkan kepada manusia yang beriman (Aamanuu), dan manusia yang bertakwa (Tattaqun), seperti manusia yang menjalankan perintah puasa dengan baik, tidak melakukan perbuatan yang kotor dan tercela seperti berdusta, ghiba, mengadu domba memandang wanita dengan syahwat serta sumpah palsu.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan puasa dengan baik mengandung nilai-nilai pendidikan untuk mendidik dan meningkatkan kualitas akhlak manusia.
Sidenreng Rappang, 5 Ramadhan 1442 H.
Penulis

MANSUR

KAMPUS
Jalan Tugu Tani Majelling Watang
Kecamatan Maritengngae
Kabupaten Sidenreng Rappang
SULAWESI SELATAN ~ 91611

INFO KONTAK
0421-3580322
+62811 444 5238
www.staiddi-sidrap.ac.id
staiddisidrap@yahoo.co.id