SEKILAS INFO
06-12-2021
  • Selamat Datan di Website Sekolah Tinggi Agama Islam DDI SIDRAP
25
Mei 2020

LOCKDOWN DALAM AL-QUR’AN

Oleh: Abdul Malik Tibe

(Dosen STAI DDI Sidrap)

Lockdown dapat berarti penutupan akses dari dalam maupun luar. Lockdown menjadi sebuah protokol darurat dan biasanya hanya dapat ditetapkan oleh otoritas pemerintah. Kata ini juga bisa digunakan dalam arti melindungi orang di dalam fasilitas. Menurut Oxford University Press lockdown adalah sebuah perintah resmi untuk mengendalikan pergerakan orang atau kendaraan di dalam suatu wilayah karena adanya situasi berbahaya. Sementara Profesor Hukum dan Etika Kesehatan Publik dari Washington College, Lindsay Wiley bahwa lockdown  dalam perspektif kesehatan publik adalah upaya menciptakan sebuah karantina geografis, atau dikenal juga sebagai cordon sanitaire.

Berdasar pada pengertian tersebut dapat difahami bahwa istilah lockdown merupakan sebuah paket kebijakan pengamanan terhadap sebuah ancaman dalam hal ini penyebaran COVID-19. Kebijakan ini harus lengkap dengan jaminan kemanan keperluan sosialnya juga seperti suplai makanan, kesehatan, pendidikan dan lainnya meskipun sedang diisolasi. Dalam kasus virus corona, negara yang terinfeksi virus corona mengunci akses masuk dan keluar untuk mencegah penyebaran virus corona yang lebih luas.

Negara yang pertama kali melakukan lockdown adalah Tiongkok, tepatnya di kota Wuhan tempat pertama kali virus tersebut muncul. Menyusul Tiongkok, saat ini Italia, Filipina, Arab Saudi, Spanyol, dan Prancis telah menerapkan kebijakan lockdown. Lockdown menjadi salah satu kata populer sejak pandemi virus corona jenis baru menyebar luas secara global. Usaha ini dilakukan untuk menekan risiko penularan virus corona pada masyarakat di luar wilayah lockdownLockdown ini bersifat temporer dan bisa dicabut sewaktu-waktu, jika kondisi dianggap sudah membaik.

 

Peristiwa Lockdown pernah dialami oleh Rasulullah bersama Abu Bakar di Gua Tsur untuk menghindari kejaran kafir Quraysy saat itu. Gua Tsur berjarak kurang lebih lima kilo meter dari kota Mekah. Lockdown tersebut diabadikan dalam QS. al-Taubah, (9):40;

إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ الله إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنزَلَالله سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

 

Terjemahnya:

Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekkah) mengeluarkannya (dari Mekkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kami”. Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan menjadikan kalimat orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Dalam tafsir Ibn Katsir disebutkan, peristiwa ini terjadi pada saat Nabi Saw. melakukan hijrah ke Madinah. Saat itu orang-orang musyrikin bertekad hendak membunuhnya atau menahannya atau mengusirnya. Maka Nabi Saw. lari dari mereka bersama sahabatnya, yaitu Abu Bakar As-Siddiq. Lalu keduanya mengevakuasi diri di dalam Gua Sur selama tiga hari, menunggu agar orang-orang yang mencari dan menelusuri jejaknya kembali ke Mekah. Sesudah itu beliau bersama Abu Bakar meneruskan perjalanan ke Madinah. Abu Bakar merasa takut bila seseorang dari kaum musyrik yang mengejarnya itu dapat melihatnya yang akhirnya nanti Rasulullah Saw. akan disakiti oleh mereka. Maka Nabi Saw. menenangkan hatinya dan meneguhkannya seraya bersabda:

يَا أَبَا بَكْرٍ، مَا ظَنُّكَ بِاثْنَيْنِ اللَّهُ ثَالِثُهُمَا

Hai Abu Bakar, bagaimanakah dugaanmu terhadap dua orang yang ketiganya adalah Allah?

Sehubungan dengan hal ini Imam Ahmad meriwayatkan hadits:

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ حَدَّثَهُ قَالَ: قُلْتُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَنَحْنُ فِي الْغَارِ: لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ نَظَرَ إِلَى قَدَمَيْهِ لَأَبْصَرَنَا تَحْتَ قَدَمَيْهِ. قَالَ: فَقَالَ: “يَا أَبَا بَكْرٍ، مَا ظَنُّكَ بِاثْنَيْنِ اللَّهُ ثَالِثُهُمَا.

 

Terjemahnya:

Dari Anas; Abu Bakar telah bercerita kepadanya bahwa ketika ia berada di dalam gua bersama Nabi Saw., ia berkata kepada Nabi Saw., “Seandainya seseorang dari mereka itu memandang ke arah kedua telapak kakinya, niscaya dia akan dapat melihat kita berada di bawah kedua telapak kakinya.” Maka Nabi Saw. bersabda: Hai Abu Bakar, apakah dugaanmu tentang dua orang, sedangkan yang ketiganya adalah Allah? Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

فَأَنزلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ

Maksudnya, dukungan dan pertolongan Allah diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Yaitu ketenangan yang diturunkan kepada Abu Bakar. Sehingga Abu Bakar Tenang dan kafir Quraisy kembali meninggalkan mereka berdua, kondisi mereka pun kembali aman. Setelah itu dengan izin Allah Rasulullah Melanjutkan perjalanan hijrahnya Ke Madinah.

Ada yang berkata (wallahu a’lam) bahwa Nabi Muhammad SAW. Melemparkan pasir ke arah kafir Quraisy sambil membaca ayat dalam QS. Yasin ayat 9:

(وَجَعَلۡنَا مِنۢ بَیۡنِ أَیۡدِیهِمۡ سَدࣰّا وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ سَدࣰّا فَأَغۡشَیۡنَـٰهُمۡ فَهُمۡ لَا یُبۡصِرُونَ)9

sehingga tidak mampu dilihat oleh mereka di dalam gua. Sehingga keduanya selamat dari ancaman orang kafir yang sangat membahayakan keselamatan mereka.

Disebutkan dalam buku Sayyiduna Muhammad Nabi al-Rahmah bahwa Peranan keluarga Abu Bakar al-Shiddiq sangat besar dalam peristiwa tersebut. Tidak ada yang mengetahui persembunyian Nabi di Gua Tsur, kecuali keluarga Abu Bakar yaitu Abdullah putra beliau, kedua putrinya Asma’ dan ‘Aisyah serta pembantu setianya Amir bin Fuhaira. Tugas Abdullah bin Abu Bakar adalah sehari-hari berada di tengah-tengah orang Quraisy, untuk menyadap informasi mengenai sikap mereka terhadap Nabi Muhammad. Amir bertugas menggembalakan ternak milik Abu Bakar, untuk menghapus jejak apabila Abdullah mengirimkan makanan di Gua Tsur, menyiapkan susu dan daging. Asma’ dan ‘Aisyah memasak menyediakan makanan di rumah kemudian diantarkan oleh Abdullah untuk Nabi dan ayahnya. Setiap Abdullah berangkat ke Gua Tsur atau kembali, di belakangnya selalu diikuti oleh Amir dengan ternak kambingnya yang banyak, menghapus jejak Abdullah, agar tidak diketahui oleh orang-orang Quraisy. Amir bin Fuhaira adalah seorang hamba sahaya yang dibeli oleh Abu Bakar kemudian dimerdekakan.

Ada hal yang menarik, sebelum Nabi memasuki Gua Tsur, Abu Bakar masuk terlebih dahulu untuk memeriksa keadaan gua itu, apakah aman untuk bersembunyi atau tidak. Dalam gua itu biasanya ditempati oleh binatang-binatang buas dan serangga berbisa. Setelah Abu Bakar memeriksanya dan dianggap aman, baru memberitahu Nabi agar beliau masuk ke dalamnya. Dalam gua itu, karena sangat lelah, suatu saat Nabi tertidur, meletakkan kepalanya di pangkuan Abu Bakar. Kaki Nabi terlihat melepuh bengkak, karena beliau berjalan tanpa alas kaki. Waktu memangku Nabi yang sedang tidur itu, tiba-tiba Abu Bakar melihat di dekat jempol kakinya ada lubang yang luput dari pengamatannya. Dari lubang itu akan keluar kalajengking besar yang siap menyengat. Abu Bakar segera menutup lubang itu dengan ibu jari kakinya. Segera setelah itu dirasakan olehnya sengatan kalajengking yang sangat menyakitkan, sehingga sengatan itu seolah-olah dirasakan sampai keulu hati. Menahan sakit yang luar biasa itu mengakibatkan badan Abu Bakar menggigil dan seluruh tubuhnya gemetar, sehingga Nabi terjaga dari tidurnya. Baru Nabi mengetahui apa yang terjadi. Dengan cepat beliau berusaha mengeluarkan bisa dari ibu jari kaki Abu Bakar serta kemudian mengobatinya dan berdo’a, sehingga Abu Bakar sembuh. (M. Muhyiddin, Sayyiduna Muhammad Nabi al-Rahmah, hal. 60)

 

Peristiwa bersejarah ini memberikan pola protocol dalam penerapan sistem lockdown di wilayah yang masuk zona merah dalam kasus virus Corona dengan beberapa langkah strategis:

  1. Abu bakar masuk ke dalam gua untuk memastikan kondisi aman dalam gua sebelum Rasulullah memasukinya, ini memebri isyarat bahwa sebelum menerapkan sistem lockdown harus mempertimbangkan dampak yang akan terjadi pada warga masyarakat setempat.
  2. Nabi Masuk bersembunyi dalam gua untuk mengevakuasi diri dari kejahatan orang kafir quraisy, ini menunjukkan bahwa ketika ada baya wabah perlu ada tindakan preventif yang dilakukan termasuk lockdown.
  3. Abdullah mengantarkan makanan dan minuman ke dalam Gua hala tersebut dapat dipahami bahwa setelah penerapan lockdown perlu perhatian besar kepada warga untuk mngantisipasi kebutuhan mereka, terutama yang berstatus ekonomi lemah.
  4. Abdullah setiap hari berada di kalangan kafir quraisy untuk mendapatkan perkembangan informasi tentang perencanaan selanjutnya oleh kafir quraysy. Ini member edukasi bahwa imformasi perkembangan dampak dan manfaat lockdown tetap terpantau untuk menentukan strategi penanganan Covid-19 selanjutnya.
  5. Amir bin Fuhayra bertugas menghilangkan jejak langkah mereka menuju mulut gua. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam penanganan Covid-19 harus melibatkan seluruh elemen masyarakat untuk berusaha mencegah atau memutus mata rantai pandemik ini.
  6. Rasulullah SAW membaca ayat dari surah yasin kemudian melemparkan pasir ke arah kafir quraisy. Bermakna bahwa diperlukan do’a dan zikir sebagai medium pendekatan diri kepada sang pencipta virus yaitu allah SWT.

Oleh karena itu, mengakhiri tulisan saya mengajak, mari secara bersama melakukan ikhtiyar maksimal untuk memutus transmisi penyebaran Covid-19 dengan sistem lockdown. Semoga kita semua tetap mendapat inayah dari Allah yang Maha mengetahui segala kebutuhan hambanya.

Sidenreng Rappang, 1 Ramadhan 1441 H/24 April 2020 M

 

KAMPUS
Jalan Tugu Tani Majelling Watang
Kecamatan Maritengngae
Kabupaten Sidenreng Rappang
SULAWESI SELATAN ~ 91611

INFO KONTAK
0421-3580322
+62811 444 5238
www.staiddi-sidrap.ac.id
staiddisidrap@yahoo.co.id